Bahaya Facebook bagi generasi penerus

Mungkin orang tidak menyangka bahwa suatu saat sebagian besar orang akan memiliki account di facebook. Dan hal itu juga akan melanda ibu-ibu yang sudah kenal dengan Internet dan Facebook. Kesukaan bercerita dan berbagi pengalaman akan tergeser dari forum arisan dan PKK menuju Facebook.

Gejala itu sudah sedikti demi sedikit nampak seperti dalam sebuah puisi seorang anak yang dapat dilihat di halaman berikut:

Ibu dan Facebook… Ibu akan membawa laptop ke Surrraa…

Jika gejala itu lambat laun menjadi sebuah kenyataa maka anak-anak akan terlantar di rumah sendiri. Ini suatu hal sangat tidak diinginkan oleh siapa saja..

Perkembangan Teknologi Informasi baik hardware dan software yang menjadi arus gaya hidup akan mengancam keharmonisan keluarga. Jika dalam satu rumah ada satu PC atau Laptop maka kan berebut untuk menggunakan dan mengakses facebook. Kalau setiap anggota keluarga memiliki laptop atau PC maka akan membuat suasanan rumah menjadi sepi sunyi seperti tanpa penghuni padahal semua anggota keluarga ada, tapi asyik berfacebook ria.

facebook

Padahal bagi yang sudah kenal facebook hanya sedikit yang bisa mengendalikan diri dan menahan untuk tidak larut dalam derasnya postingan status di facebook.

Dan yang meninggalkan facebook akan jauh lebih sedikit…

Asalkan dalam ber-facebook tidak menjurus pada hal-hal bersifat destruktif,  menggunjing, dan menyebar fitnah, masih lebih baik dari pada berkumpul-kumpul yang dilakukan sambil minum minuman keras atau berjudi.

Sekarang makin murah laptop, 4 juta sudah dapat, dan dapat dikredit lagi. Dan makin mudahnya akses internet karena banyak yang memberikan akses semi terbatas. Makin banyak provider yang menawarkan paket internet murah.

Maka akan kita lihat dimana-mana orang menenteng laptop mini yang ringan itu digelar dipelototi  bahkan bisa berjam-jam ketika ada kesempatan akses internet.

Kebiasaan bergaul di dunia maya akan lebih mengasyikkan dan menyenangkan dari pada kerjabakti dan gotong royong.

Jadi diri bangsa akan pudar karena sebagian besar pemuda yang berpotensi lebih tertarik bergaul melalui dunia maya dari pada dunia nyata. Sebagai contoh gejala ini sudah nampak dari pemberitaan meduia massa Kedaulatan Rakyat tanggal 29 Mei 2009, “Sedikit peminat untuk mendaftar dalam kompetisi pemuda pelopor di DIY”.

Kata panitia penyelenggara, tahun lalu juga sedikit yang mendaftar tidak lebih dari 20 orang.

Namun jika dilakukan lomba Ngeblok atau Lomba bobol Server pasti akan berbondong-bondong.

Inilah kecenderungan pemuda masa kini yang masih berupa gejala dan akan bergulir menjadi kenyataan, jika tidak ada upaya serius dalam mengantisipasi perkembangan jaman dari berbagai pihak.

About me