DPT yang ruwet…

Pemilu 2009, telah berlangsung dan ternyata angka GOLPUT mencapai puluhan Juta… Luar Biasa. Masalahnya, banyak yang GOLPUTnya bukan karena kemauan dari masyarakat tetapi karena Aturan dan SISTEM PEMILU-nya yang menyebabkan golput.

Jaman Teknologi Informasi, kok malah ruwet ya…? Pemilu yang lampau, bahkan sebelum maraknya Komputer, jaringan komputer dan internet, kayaknya masalah DPT tidak terlalu kacau seperti PEMILU 2009.

Diskusi dengan temen-temen menarik tentang DPT dan GOLPUT ini… Komentar dari diskusi ini antara lain:

  1. KPU tidak gencar iklankan tentang adanya DPS dan DPT sehingga banyak warga yang tidak tahu dan bahkan terlambat daftar.
  2. KPU tidak mengumumkan tahapan PEMILU secara massiv dan dapat dipahami secara jelas oleh masyarakat. Diindikasikan KPU melaksanakan semua tahapan  tetapi sebatas menggugurkan kewajiban, tidak berorientasi target.. Ada-ada saja…
  3. Asal muasal data katanya dari pemerintah,  KPU tinggal pakai dan pemutakhiran data, ini pekerjaan yang sulit dicapai validitasnya.. apalagi waktu yang diberikan sempit  dan tidak ada publikasi yang gencar sehingga masyarakat tidak paham kalau ada masa pemutakhiran data. Memang yang lebih baik ya didata ulang sejak awal…
  4. Pemilihan berdasar KTP juga meningkatkan angka GOLPUT, apalagi mutasi  pemilih tidak mudah dan kecil kemungkinan bisa melaksanakan pemilihan. Hal yang tidak diketahui oleh KPU bahwa sebagian besar masyarakat pekerja/mahasiswa KTPnya tidak selalu identik dengan tempat kerja/tinggal kesehariannya. Banyak masyarakat yang sudah bertahun-tahun tinggal di wilayah kerja tetapi KTP masih di daerah asalnya demikian juga mahasiswa yang jauh dari rumahnya yang kemungkinan sulit untuk pulang HANYA untuk menyalurkan hak pilihnya.
  5. Banyak masyarakat yang GOLPUT karena beberapa hal sbb:
    1. Mahasiswa/pelajar yang merantau (luar Jawa) tidak mengetahui memegang form A5.
    2. Masyarakat yang memegang form A5 tetapi tidak dapat mengikuti pemilu krn tidak dilayanai di TPS yang dipilih.
    3. Pekerja dan pasien di RS yang tidak diberi TPS khusus
    4. Pekerja yang ditugaskan di wilayah yang jauh dari daerah asalnya, sehingga tidak tahu dapat c4 atau tidak.
    5. Masyarakat yang tidak masuk dalam DPT. Wah ini jelas GOLPUT…
    6. Masyarakat yang masuk dalam DPT tetapi terbawa arus (solidaritas) dari teman-temannya yang tidak masuk dalam DPT atau tidak memegang form A5… Wah ini menyia-nyiakan kesempatan..
    7. Masyarakat yang bingung kebanyakan partai dan CALEG.. Hehe.. mikir nyaur utangnya saja susah kok mikir caleg ya..
    8. Masyarakat yang apatis dengan ALEG krn opini dan fakta banyaknya aleg yang tertangkap KPK. Menyedihkan…
  6. Ada yang berpendapat Personil di KPU seharusnya memiliki jiwa enterpreneurship, dan berpengalaman mengelola hajatan besar : mantan direktur perusahaan, mantan pejabat negara, dll. PEMILU merupakan pekerjaan besar dan massal, perlu memahami dan berpengalaman menangani karakteristik masyarakat.
  7. Adalagi yang berpendapat, masyarakat kebanyakan lihat TV tetapi yang dilihat sinetron jd tidak fokus dengan PEMILU. Loh.. sinetron kok jadi pesaing PEMILU.. :)

Yah.. itu sekedar rerasan.. kok bangsa kita seperti ini, disaat teknologi semkain maju kok malah lebih ruwet… PEMILU-nya…

Pak Nuh melontarkan adanya SIN (Single Identity Number)… Hehe.. saya sudah rerasan juga pak di posting sebelum ini.. kapan Sistem Informasi penduduk Indonesia dibuat…. Prinsipnya  sama adanya Nomor tunggal dari setiap penduduk sehingga memudahkan untuk penggunaan berbagai keperluan: pemilu, pilkada, pilkadaes, pelacakan kejahatan, mutasi penduduk, pembuatan sim, jual beli, dll… 

Tetapi..

Itu tidak mudah karena memerlukan SDM dan infrastruktur yang terjangaku ke seluruh jaringan ke KELURAHAN se Indonesia..

Tapi juga, pasti dan harus bisa… Semoga tidak sekedar wacana..

About me