[Hikmah Pidana Mati] Manusia merintih ampunan karena kesalahannya

 

Di dunia ini drama penyesalan akan muncul setelah dirinya terancam merupakan pemandangan yang sudah lazim. Maling ketangkap.. teriak minta ampun dan janji tidak mengulangi. Sifat manusia memang demikian, yaitu manusia bodoh akan kejadian yang akan datang, manusia baru tahu setelah segalanya terjadi, manusia hanya bisa mengkira-kira apa yang akan terjadi masa datang, manusia potensi bersifat pendendam, manusia lupa, manusia lemah akal, dll.

Begitulah kondisi manusia…

Akhir-akhir ini kita bisa mengambil hikmah atas rencana hukuman mati dari 10 orang yang tertangkap karena melakukan penjualan narkoba di Indonesia. Pada saat mereka masuk ke Indonesia membawa bahan jenis Narkoba tidak ada perasaan bersalah bahwa akibat dari barang yang dibawanya akan membuat orang lain sengsara. Sungguh tidak masuk akal ketika akibat perbuatannya itu kemudian akan dihukum mati oleh Pemerintah mereka merintih minta dibebaskan. Negara memiliki kewajiban untuk melindungi warga negaranya dari berbagai ancaman termasuk ancaman kesengsaraan rakyat dari Narkoba.

Larangan mengedarkan Narkoba di Indonesia sebenanya mereka sudah tahu, dan mereka sadar hal itu, maka mereka tidak terus terang membawanya. Mereka juga paham bahwa para munculnya para pecandu Narkoba merupakan akibat perbuatannya dan dapat mengakibat kematian. Tetapi mereka tetap saja memaksankan kehendak.

Tuhan telah memberikan perlindungan kepada Rakyat Indonesia, akhirnya mereka tertangkap. Proses hukum telah dilaksanakan, dan keputusan telah ditetapkan.

Nahh… disinilah kemudian mereka (dua orang terpidana dari Negara Tetangga) merengek-rengek minta ampunan.. tidak tanggung-tanggung pimpinan negara Asalnya juga ikut-ikutan. Sangat kekanak-kanak mereka itu.. padahal mereka adalah manusia dewasa dan harus tanggung jawab atas perbuatan rakyatnya. Bertanggungjawab bukan dengan membela membabi buta. Tetapi dengan ikhlas menyerahkan masalah itu kepada otoritas hukum NKRI. Seolah mereka tidak mau menanggung akibatnya.

Tidak usah jauh dengan negara tetangga, di Indonesia juga ada rakyat yang ikut-ikutan membela mereka dengan alasan mereka telah berubah menjadi lebih baik. Gelar Profesor lagi,… membawa-bawa akademik sisan.. wah kacau.

Betul-betul Gelap.. gelap.. Mereka tidak berani melihat orang mati karena kesalahannya.

Kita ingat bahwa.. perubahan pada manusia bisa dilakukan dengan alasan dan tujuan apa saja asalkan dirinya senang. Itu sangat umum.. dan sangat gampang. Kamuflase… Tipuan syetan..

Kita pasti sadar bahwa manusia itu memiliki sifat sak enake dhewe.. inginnya enak terus. Sudah jelas hukum harus ditegakkan malah maunya dilanggar. Kita bisa melihat.. siapa warga negara Indonesia yang betul-betul ingin melindungi Negara kita dengan ikhlas dan jujur dan konsekuen.

Kisah itu hanya sepenggal kehidupan dunia dan ada di Indonesia. Tuhan sudah menetapkan kisah itu dalam kitab SuciNya berkaitan dengan kehidupan manusia secara lebih luas.

“Dan (sungguh ngeri) jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal soleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (as Sajadah: 12)

”Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala’.”(Al-Mulk: 10).

“Wahai Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari Neraka ini (serta kembalikanlah kami ke Dunia); setelah itu kalau kami kembali lagi (Mengerjakan Kufur dan Maksiat), maka sesungguhnya Kami Orang-orang yg Zalim.” (Allah) berfirman: “Diamlah kamu dengan kehinaan di dalam Neraka, dan Janganlah kamu Berkata-kata (memohon sesuatupun) kepadaKu! (Al-Mu’minun 107,108)

Ayat tersebut merupakan kisah manusia yang menyesal dan merengek minta ampunan dan berjanji akan berbuat baik. Apakah Tuhan mengabulkan permohonannya ? Kisah itu merupakan bocoran dari Tuhan terhadap kejadian masa depan setelah dunia Kiamat.

Nah.. sudah jelas bukan bahwa manusia itu sak enake dhewe.. Tuhan saja mereka berani negosiasi..

Itu karena manusia merasa pinter, manusia memang pinginnya senang terus, dan Egois. Orang lain susah mereka bilang EGP…! Negara kacau.. EGP.. Rakyat terancam EGP… !

Mari kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain, maka kita akan selamat dari berbagai godaan syetan yang menyesatkan. Aamiin.

About mdin