Kenangan dengan Mbah Maridjan menjelang wafat

Secara khusus saya tidak kenal dengan Mbah Maridjan, karena mungkin hanya sekali bertemu ketika mampir di Rumahnya. Sudah lama kejadian ini, sekitar 15 tahun yang lalu. Juga ketika mampir di masjid yang ada di sebelah utara rumah Mbah Maridjan. Masjidnya belum sebagus seperti sesaat sebelum di terjang Awan Panas “wedhus gembel”, 26 Oktober 2010.

Ingatan menerawang saya seperti pada saat itu, rumah yang sederhana dan sosok orang yang sederhana pula. Kesan aneh-aneh seperti yang dipahami orang tidak saya temukan dari Mbah Maridjan.  Meskipun pada tahun 2006, pada saat gunung merapi meletus Mbah Maridjan menolak turun untuk menyelamatkan diri dan ternyata selamat, menurut saya memang waktu itu takdirnya belum sampai ke rumah Mbah Maridjan Awan Panasnya.

Tetapi untuk kejadian letusan Gunung Merapi yang terjadi 26 Oktober 2010, karena keyakinan Mbah Maridjan untuk tetap tinggal dirumah meskipun sudah disampaikan kalau Gunung Merapi akan meletus, takdirnya awan panas menerjang rumah Mbah Maridjan dan sekitarnya.  Jika ternyata, akhirnya Mbah Maridjan menemukan sendiri datangnya Awan Panas, dan akhirnya Mbah Maridjan tidak lagi bisa bercerita apa-apa tentang Gunung Merapi dan Awan Panas “Wedhus Gembel”. Maka itulah sebuah takdir yang tidak dapat ditolak, meskipun dengan do’a dan keyakinan, jika takdir telah datang maka apapun akan terjadi.

Kepada semua yang mafat akibat awan panas, kita mengucapkan Innalillahi wainna ilaihi rooji’uun.

Cerita lain kita lihat kenangan menjelang Wafat dari seorang wartwan Nova, dalam berita di metro TV berikut.

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Peristiwa meletusnya Gunung Merapi pada Selasa (26/10) petang, bagi sebagian orang meninggalkan cerita tersendiri. Daniel, misalnya. Wartawan Tabloid Nova itu lolos dari sapuan awan panas Merapi yang dikenal dengan sebutan wedhus gembel karena harus mengisi ulang baterai kamera foto-nya drop atau lemah. Saat itu Daniel baru saja turun dari kediaman Ki Surakso Hargo alias Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.

“Kamera yang drop baterai-nya saya harus pulang (turun) dengan men-charge lagi. Dan kabut tebal yang dingin yang memaksa saya turun,” tutur Daniel mengenang pengalamannya saat ditemui Metro TV di sekitar Rumah Sakit Dokter Sardjito Yogyakarta, Rabu (27/10).

Daniel menuturkan saat itu dirinya sedang mengambil gambar aktivitas Gunung Merapi di sekitar Kali Adem, tidak jauh dari kediaman Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Setelah itu ia dan temannya sesama dari Nova menuju rumah Mbah Maridjan.

Setiba di kediaman Maridian yang berjarak sekitar 4 kilometer dari puncak Merapi, Daniel mendapati sejumlah wartawan lainnya. Sedangkan sang tokoh sentral, Mbah Maridjan, sedang berada di masjid dekat rumahnya. Di sana terdapat sekitar 10 orang wartawan, di antaranya dari Antara, Kompas, Republika dan Al-Jazeera.

Sekitar pukul 16.00 WIB, Mbah Maridjan keluar dari masjid. Wartawan pun menyambut dan menyalami pria sepuh yang juga bintang iklan sebuah produk minuman suplemen dengan moto “Roso” itu. Namun saat hendak diambil gambarnya, Mbah Maridjan menolak. Mbah Maridjan didampingi dua pria yang tak dikenal.

“Ojo foto, ojo foto. Mengko tak kek-i gambar dewe (Jangan difoto, nanti saya kasih gambar sendiri),” aku Daniel menirukan penolakan Maridjan.

Setelah itu Mbah Maridjan bersama dua pria tersebut masuk rumah. Sedangkan wartawan dan warga serta kerabat lainnya asik mengobrol di teras. Di halaman juga terdapat warga lainnya, termasuk anak kecil. Bahkan di dekat rumah Mbah Maridjan, sebuah warung tetap buka. Daniel melihat tidak ada tanda-tanda ketegangan atau ketakutan dari warga saat itu.

Saat menjelang sore, tiba-tiba kabut tebal sangat dingin menerpa Dusun Kinahrejo. Dan dan temannya kemudian memutuskan turun. Selain karena hawa di sana sangat dingin, baterai kamera Daniel melemah sehingga harus diisi ulang.

Tidak berapa lama, Daniel ditelepon kantornya di Jakarta yang menyatakan Gunung Merapi meletus. Sontak Daniel kaget. Ia lalu berusaha kembali naik, namun teradang hujan debu yang sangat pekat. Daniel pun hanya bisa termangu dan membayangkan jika dirinya masih berada di sana, kediaman sang tokoh yang dikabarkan juga meninggal.(DSY)

About mdin