“Merapi Giant Eruption” Skenario Letusan Terburuk dalam 500 tahun terakhir!

Hangatnya peristiwa merapi yang tidak henti-henti sejak 26 Oktober 2010, telah memacu kajian dan pemikiran kemungkinan apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang akan terjadi?

Berikut tulisan dari Jenggot, yang diambil dari kaskus.

By: Jenggot
For : National Geographic Society, Vulcanological Survey of Indonesia & Netters.

Sebagai penulis, saya tidak bermaksud untuk membuat kekhawatiran yang berlebihan kepada masyarakat. Sebaiknya tulisan ini dinilai sebagai sebuah subjektifitas penulis saja agar nilainya menjadi opini saja.Namun demikian ada baiknya jika masyarakat mengetahui tingkah laku merapi ini secara komperehensif.

Gunung merapi di utara yogya ini menjadi sebuah objek penelitian paling lengkap untuk dunia vulkanologi. Sejak dugaan letusan mahadahsyat di abad ke-10 yang mengubur candi borobudur dan baru ditemukan kembali pada abad ke-19 oleh raffles, membuat gunung ini menjadi bahaya nomor satu di tanah jawa. meskipun kemudian dalam publikasi2 ilmiah ditemukan bahwa candi borobudur tidak terkubur dalam satu kali letusan, tetapi fakta bahwa merapi lah yang menguburnya tidak terbantahkan.

Saya mengacu kepada studi stratigrafi yang dilakukan oleh Andreastuti (1999), merapi dipastikan pernah meletus dengan sangat dahsyat (VEI-4) dengan tipe plinian pada 500 tahun yang lalu (MN15 NB1). Lalu 250 tahun kemudian juga dengan letusan Dahsyat yang menghasilkan Kawah Pasar Bubar (saya yakin para pendaki tau benar lapangan di puncak merapi ini). Setelah kawah pasar bubar ini terbentuk tidak ada lagi letusan2 dahsyat yang terjadi, dan selanjutnya dari pasar bubar ini tumbuhlah sebuah kerucut baru yang kini kita sama2 tau bernama gunung anyar dengan puncak garuda diatasnya.

Sejak dahulu (40.000 tahun yl) merapi sudah beberapa kali melalui siklus letusan dari efusif – eksplosif – plinian – eksplosif – efusif kembali. Karakteristik letusan akan berbanding lurus dengan jenis magma yang diproduksi oleh merapi. semakin asam magma, maka semakin hebat letusannya. Setelah 1880an merapi mengalami perubahan pola letusan dari eksplosif (ledakan) menjadi efusif (lelehan). mungkin hanya letusan tahun 1930 dan 1961 saja yang tercatat memiliki VEI-3 dengan tipe vulkanian yang cukup besar.

Saya mengamati perilaku merapi sejak letusan tahun 2001 dan 2006 yang memiliki jenis letusan yang hampir sama. Akhirnya banyak disebut tipe merapi. Publikasi2 dalam 10 tahun terakhir pun sepakat bahwa trend letusan merapi masih efusif (lelehan) dengan material yang dimuntahkan sekitar 10 juta meter kubik pada setiap letusan dengan arah tradisional menuju selatan dan barat. Sejak itu pula mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah adalah protap zona aman 10km. Sosialisasi mitigasi ini saya kira berhasil dan SOP penanggulangan bencana letusan merapi ini menjadi contoh yang diadopsi oleh PBB (kita patut berterima kasih kepada Bpk.Jusuf Kalla untuk hal ini). Tapi yang terjadi saat ini saja (4/11/0 ) sudah lebih dari 50 juta meter kubik material letusan yang dimuntahkan oleh merapi!

Lima hari pasca letusan gunung sinabung (awal oktober), saya mendapat kabar bahwa aktivitas merapi mulai meningkat. Bagi saya ini hal wajar karena memang siklus lima tahunan sudah hampir tiba dan semua pihak pun akan berpikiran sama. Tetapi hanya dalam 10 hari sejak terdeteksinya Gempa Vulkanik B (migrasi fluida cair dari dapur magma menuju ke permukaan) merapi sudah sangat mengkhawatirkan!. Saya ingat ketika tanggal 20 oktober 2010 saya mendapat berita bahwa hasil kalkulasi instrumen EDM menunjukkan deformasi kubah lava sudah mencapai 30cm per hari! Untuk ukuran gunung berapi pertambahan kubah lebih dari 10cm/hari saja sudah termasuk mengkhawatirkan. Bahkan pada 23 oktober deformasi sudah mencapai angka 52cm!

Saat itu semua penggiat vulkanologi pasti sudah merasa was2 dan panik dengan tingkah laku merapi yang sangat “liar” ini. Dua hari kemudian (25/10) bahkan deformasi sudah mencapai 75cm/hari! Tidak ada lagi waktu untuk berpikir dan saat itu pula status merapi dinaikan ke level tertinggi (level 4) AWAS!. SOP mitigasi pun dilakukan dan hanya 30jam setelah status AWAS akhirnya letusan pertama (26/10) terjadi dengan tekanan 2x lebih besar dari letusan tahun 2006 dan mengarah langsng ke Kaliadem & Kinahrejo. Letusan “direct blast” ini mengakibatkan banyak korban jiwa termasuk juru kunci merapi. Jika saja PVMBG telat satu hari menaikan status merapi maka korban jiwa yang jatuh akan menjadi ribuan nyawa! Inilah prestasi rekan2 PVMBG dan Badan Geologi Indonesia yang nyaris tidak pernah terpublikasi oleh siapapun bahkan media sekalipun! (sayang memang media lebih senang hal2 lain atau pura2 tidak tau, entahlah).

Pasca letusan tipe merapi (awan panas letusan) ini semua orang berharap bahwa inilah puncak letusan merapi dan berharap setelah hari itu merapi kembali tenang. Tetapi dua hari kemudian (28/10) kembali terjadi awan panas letusan yang juga mengarah ke kaliadem dan pada jumat malam (29/10) terjadi letusan yang cukup besar yang tidak bisa disaksikan karena secara visual tidak nampak. Baru pada pagi hari sabtu (30/10) letusan semalam berhasil mencapai bukit kendil.

Sabtu (30/10) saya tiba di yogya dan berencana langsung menuju titik pusat arah letusan di kaliadem, tapi karena kendala cuaca akhirnya baru minggu pagi (31/10) saya berangkat ke lokasi. Dokumentasi kaliadem, kaligendol pasca letusan sangat menyedihkan dengan tingkat kerusakan 100%! Tidak banyak yang tersisa disana. Kedekatan emosional antara saya dan juru kunci merapi pun sudah tidak terasa lagi saat itu. Pukul 14.00 Wib minggu 31 oktober 2010 saya berada di PPGA kaliurang untuk mengambil data aktivitas merapi dan seperti dugaan dan kalkulasi saya sebelumnya, siang itu merapi kembali memuntahkan awan panas letusan kearah kaligendol.

Puncaknya adalah pada pukul 15.20 Wib, merapi mencatat sejarahnya sendiri dengan letusan eksplosif pertama langsung dari perut bumi dengan ketinggian column lebih dari 3000meter terukur langsung dari PPGA kaliurang dan terdokumentasikan dalam video yang saya bawa. Selanjutnya video ini sempat diminta oleh beberapa stasiun TV nasional karena kebetulan hanya video ini yang bisa merekam detik2 letusan eksplosif dari perut bumi dari jarak 5km dari puncak, tetapi karena video ini adalah property negara (BPPTK dan VSI) maka sampai saat ini belum bisa di share untuk kepentingan mitigasi. Letusan inilah yang saya kira menjadi titik balik perubahan tipe letusan merapi dari efusif menjadi eksplosif. Suara Dentuman yang menggelegar yang terjadi didepan mata saya telah membuka ingatan akan letusan2 eksplosif masa lalu.

Malam hari setelah letusan eksplosif pertama ini (31/10), saya bersama Kapolres Sleman (pak amri) dan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM (Dr.Sukhyar) membahas pola letusan yang aneh ini dan membuat hipotesa awal bahwa trend letusan merapi kedepan akan lebih eksplosif! Dan terbukti pada pukul 06.00 Wib (4/11) letusan eksplosif tipe vulkanian kembali terjadi.

Gunung Merapi yang memiliki tipe basalt-andesitik ini memiliki komposisi SiO2 pada kisaran 50-58%. Saat ini komposisinya berada pada 57% (konfirmasi Dr.Sukhyar dalam pertemuan saya di PPGA kaliurang minggu malam). Tingkat keasaman Gunung Merapi ini saya kira akan semakin tinggi karena fase merapi saat ini sudah masuk ke dalam fase eksplosif. Viskositas magma yang tinggi sudah/sedang diproduksi oleh merapi didalam dapur magmanya saat ini.

Saya belum mendapat konfirmasi apakah dari magma tube ataukan dari dapur magma (15km) tekanan fluida cair ini dimulai? Jika tekanan terjadi di dapur magma dangkal, maka kiranya letusan merapi tidak akan dahsyat karena tekanan yang dihasilkan akan segera dieliminasi oleh gravitasi, tetapi jika aktivitas magma terjadi dari dapur magma jauh (high pressure), maka bukan tidak mungkin letusan eksplosif vulkanian atau bahkan plinian akan terjadi lagi!

Lahar panas sudah terbentuk hari ini (4/11) dipuncak merapi. Kubah 2010 pun tumbuh persis disekitar kubah letusan 2006 yang sudah tidak stabil. Dan faktanya kubah 2006 ini juga berada diatas kubah letusan 1911 (tebing berbentuk huruf U di puncak) yang juga sudah tua dan tentunya tidak stabil. Bukaan kubah 1911 adalah mengarah ke barat/baratdaya puncak merapi. Ini artinya skenario terburuk dari letusan merapi kali ini adalah “collapse” nya kubah 1911 yang memiliki volume 7-8 juta meter kubik secara “direct” menuju arah baratdaya dan barat dengan fatality 100% dalam jarak 5-8km dari puncak.

Tetapi “the worst case scenario” merapi adalah tekanan yang terjadi dari dapur magma jauh (15km) yang jika ini yang terjadi maka letusan yang dihasilkan akan jauh melebihi akumulasi letusan yang terjadi sejak tgl 26/10 hingga 4/11 ini. mungkinkah terjadi? jika kita melihat sejarah letusan2 masa lalu dan dampaknya terhadap peradaban jawa (mataram), maka letusan plinian dengan VEI-4 sangat mungkin terjadi.

Bukankah jawa tengah pernah kehilangan peradabannya pada abad ke-10 hingga abad ke-15? hilangnya peradaban Mataram (hindu) di jawa tengah selama 5 abad bukanlah perkara ringan. Faktor apakah yang mampu melenyapkan sebuah peradaban selama lebih dari 400 tahun dalam sekejap? jawabannya adalah Merapi! (meski dalam publikasi2 lain ada hipotesa yang menyebut perang melawan sriwijaya adalah penyebabnya). tetapi melihat fakta arkeologi & tulisan2 di prasasti (hilangnya candi borobudur, sambisari, kedulan, dll) maka Merapi lah faktor utama hilang/pindahnya peradaban di jawa tengah masa itu.

Saat ini pertanyannya adalah berapa km zona aman merapi yang sebenarnya? saya yakin 30km adalah zona paling ideal dari ancaman letusan besar merapi ini, tetapi pertanyaannya mampukah APBN Indonesia mengcover biaya penanggulangan bencana jika zona rawan bencan (KRB) dimundurkan hingga 30km dari puncak merapi? berapa ratus ribu populasi yang harus jadi pengungsi? berapa biaya yang dibutuhkan untuk itu? dan dampak2 sosial lainnya yang pastinya akan timbul sebagai efek domino dari perluasan zona aman letusan.(Jenggot/BRS Indonesia).

Sumber:

http://www.kaskus.us/showpost.php?p=307435875&postcount=2179

About mdin