Penjara bagi Dasep Ahmadi – Kreator Mobil Listrik Nasional ??

Ir Dasep Ahmadi adalah seorang konseptor mobil listrik nasional. Hasil kerjanya berupa delapan unit bus listrik dan delapan unit mobil listrik eksekutif yang digunakan delegasi APEC di Bali tahun 2013. Selain ahli otomotif, ia juga menguasai bahasa Inggris, Jepang dan Jerman.
Dasep-Ahmadi-dan-Mobil-Listrik

Dasep bukan orang yang coba-coba tanpa bekan kemampuna. Prestasi yang diperoleh cukup banyak.
Pada tahun 1987 ia meraih Juara I Lomba Inovasi Robotika Mahasiswa Tingkat Nasional melalui karyanya „Prototipe Robot dengan 5 Derajat Kebebasan. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menristek BJ Habibie. Ketika itu sudah duduk di tingkat III.
Tahun 1987 ia mendapatkan beasiswa dari Freeport Inc, melalui Engineer Acceleration Program ITB.
Tahun 1989, ia mendapat Juara III Lomba Karya Inovasi Mahasiswa Tingkat Nasional dengan karyanya yang berjudul „Kontrol Elektronik Sederhana untuk Peningkatan Efisiensi Pemakaian Bahan Bakar pada Kendaraan yang Menggunakan Bahan Bakar Bensin. Lomba tersebut diadakan oleh Ditjen Dikti. Atas prestasinya itu, ia diwawancarai sejumlah wartawan, bahkan sempat masuk TV. Dengan berbagai prestasinya, Dasep memilih tugas akhir membuat robot yang memadukan teknologi mekanik, elektronik dan software computer. Tugas akhir tersebut berhasil diselesaikannya dalam waktu satu tahun. Ia lulus sebagai sarjana teknik mesin tahun 1990. Dasep juga peduli infrastruktur dengan mengajak Dahlan Iskan untuk sidak di st.kereta api Sukabumi. (blogpenemu.blogspot.co.id)

Dahlan-Ishkan-Mogok-Mobil-ListrikBagaimana Kabar bapak Dasep Ahmadi sekarang???

Majelis Hakim Pengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) menyatakan bahwa Dasep Ahmadi selaku Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama terbukti melakukan tindakan memperkaya diri yang menggunakan keuangan negara. Putusan tersebut diketuk palu oleh Arif Waluyo selaku Ketua Majelsi Hakim pengadilan Tipikor. (http://autonetmagz.com)

DUHH.. Dipenjara ??

Atas putusan tersebut, Dasep dijatuhi hukuman selama 7 tahun penjara dan denda 17.1 Miliar yang harus dibayarkan ditambah denda subsider 200 juta Rupiah. Jika dalam 30 hari setelah putusan uang pengganti tidak dipenuhi oleh Dasep, maka harta benda milik Dasep Ahmadi akan disita, dan jika masih tidak cukup, ia akan ditambah 2 tahun penjara. Duh!

Kasus ini bermula dari permintaan Kementrian BUMN yang saat itu dipimpin oleh Dahlan Ishkan untuk mendukung kegiatan Konferensi APEC yang diselenggarakan di Bali pada tahun 2013 silam. Kementrian meminta PT Sarimas Ahmadi Pratama untuk membuatkan 16 mobil listrik pada bulan April 2013. Dan selama kurun waktu 6 bulan, Dasep harus membuat mobil tersebut hingga bisa digunakan. (http://autonetmagz.com)

Bagaimana agar kreasi inovatif tidak masuk penjara??

Apakah konsep pengembangan teknologi seperti jual beli ??

Apakah Kasus Dasep Ahmad semakin menegaskan bahwa :

Indonesia bukan negara Produsen teknologi.. !

Indonesia bukan negara Pengembang teknologi.. !

Pengembangan Teknologi tidak ada yang tidak gagal. Lihatlah pengembangan pesawat terbang.. banyak gagalnya dan banyak ruginya. Memang di Indonesia orang pintar dan cerdas tidak bisa kaya dari kecerdasannya dalam bidang pengetahuan. Dan dari kekayaannnya tersebut untuk menciptakan  teknologi baru yang tidak merugikan negara. Sangat langka dan bisa dikatakan mustahil.

Orang kaya Indonesia biasanya dari perdagangan atau jasa .. tetapi setelah kaya hasil kekayaannya tidak untuk mengembangkan teknologi,. tapi untuk bisnis.

Kapan warga negara Indonesia memiliki kreasi yang dipatenkan dan dapat digunakan oleh industri ??

 

 

 

About mdin