Route Menegangkan Pekalongan – Banjarnegara

Pengalaman perjalanan yang takkan terlupakan, route Pekalongan Banjarnegara melalui pegunungan yang ada diantara dua kabupaten tersebut.

Perjalanan yang cukup menegangkan bagi pejalan perdana, route sepanjang 64 Km, ditempuh dalam waktu 3 jam dengan menapaki bukit pegunungan yang ditelusuri dalam 769 tikungan.  Tahap Pertama dari Pekalongan menuju tepi bukit, jalan terasa nyaman dan tidak begitu sepi. Sebelum menapaki kaki bukit mengisi bensin terlebih dahulu.

xeniaroute

Pukul 18.10 perjalanan mulai memasuki kaki bukit, dengan penuh harapan agar semua berjalan lancar. Bayangan jalan yang ada sebelumnya, paling tidak jauh berbeda  seperti di jalur Jogja-Wonosari, Wonogiri-Pacitan, Bandung-puncak, Wangon-Banjar, kediri-malang, Ciamis-Tasikmalaya-Nagrek. Ternyata semua bayangan itu jauh berbeda, dan sangat mengejutkan, karena jalannya yang sebelumnya lebar menjadi menyempit dan cukup untuk dua mobil dengan tikungan-tikungannya yang  tajam dan sangat sering. Pemandangan didominasi pepohonan tinggi dan tanpa lampu penerangan jalan dan rambu-rambu lalulintas. Mungkin DLLAJR akan pusing karena terlalu banyak yang harus dipasang, padahal itu penting bagi sopir yang baru pertama lewat seperti saya. Jalan lurus sangat sering tidak lebih dari 100m sudah berbelok ke tikungan.

karangkobar diatas gunung

Perjalanan malam hari ada 2 keuntungan: kendaraan lawan di tikungan dapat diketahui dengan adanya lampu sehingga lebih mudah mengantisipasi, jalan terasa lengang lebih leluasa mengatur kendaraan.

Tetapi juga hal-hal yang tidak menguntungkan seperti suasana terasa mencekam karena hanya dihiasi pemandangan tanaman dan pohon atau sesekali pemandangan tepi bukit dan beberap kali kabut yang tebal disaat jalan berbelok-belok. Jika kendaraan yang tidak fit keadaannya sangat berbahaya, karena sulit ditemukan kehidupan dan datangnya pertolongan. Untung sinyal seluler masih diperoleh, tetapi jika daya baterai habis maka komunikasi juga akan berhenti, padahal tidak ada sumber listrik yang dapat diharapkan untuk men-charge.

Perjalanan kami  memang terasa surprise yaitu merupakan route pertama, tanpa pengetahuan keadaan jalan, menempuh lebih dari 700 tikungan, penuh syukur karena kendaraan tidak mengalami kerusakan dan semua penumpang tetap sehat.

Mental sopir memang harus kuat disaat melewati setiap tikungan karena tidak jarang tikungan-tikungan tajam ditemui disertai jalan menurun atau menaik.

Kejadian lucu sempat ditemui, dimana setelah melewati tikungan yang cukup sulit dan padat sepanjang 20 km ditemukan sebuah keramaian layaknya sebuah kota. Siap-siap mau mampir makan malam, namun warung makan yang cocok tidak ditemui dan selidik-selidik ternyata keramaian malam itu bukanlah kota Banjarnegara tetapi KALIBENING. Untuk menuju Banjarnegara masih harus menempuh 46 km.. lagi..  Waoo 2 kali lipat yang sudah ditempuh. Bayangan dengan tikungan-tikungan tajam  dan kabut tebal yang siap menjemput di depan mata.

Allahu Akbar… kehidupan itu ternyata ada ditengah gunung yang dikitari dengan akses jalan dengan tikungan yang padat dan sulit.

Perjalanan diteruskan menuju Banjarnegera dengan penuh berat hati, karena bayangan sulitnya perjalanan sepanjang 20 km sebelumnya. Hati ditetapkan dan dikuatkan bahwa akan menempuh dengan kesabaran dan waspada serta hati-hati agar setiap km dapat dilalui dengan selamat. Kembali tikungan, kegelapan, kabut dan curamnya tanjakan dan turunan harus kita lewati dengan ketenangan. Semua penumpang kita kondisikan agar tenang dan  berdo’a.

gunung karang kobar

Pertengahan jalan ditemui lagi keramaian, dan jalan padat. Ternyata di tengah gunung ada hajatan bersama 3 rumah berdekatan dengan jarak 100m. Keramaian tersebut berada di WANAYASA. Betul-betul suasana yang meriah ditemui di rumah hajatan. Kami heran, para tamu undangan menggunakan truk untuk menghadiri hajatan. Jarang ditemui mobil-mobil pribadi atau bus, bahkan hampir tidak ada.

Pakaian tamu juga rapi dan tidak terlihat kalau hajatan tersebut ditengah gunung yang dingin karena habis hujan.

Perjalanan kita lanjutkan.

Daerah yang kita temui selanjutnya yaitu KARANG KOBAR. Keramaian terakhir sebelum Banjarnegara.

Akhirnya dengan waktu tempuh 110 menit mampu menempuh 46 km, kota Banjarnegara betul-betul kita temui. Kenikmatan kita rasakan begitu kami sadari dan yakini  bahwa keramaian dan kehidupan kita temukan adalah betul bahwa kehidupan malam dipenuhi warga Bota banjarnegara.

Agenda pertama adalah mencari warung makan untuk istirahat dan mengobati kekecewaan 2 jam sebelumnya saat berada di tengah gunung.

Makan malam segera kita nikmati dengan penuh syukur.

Anda tertantang dengan perjalanan malam yang penuh belokan silakan coba.. jalur Pekalongan-Banjarnegara. Memang lebih mengirit waktunya daripada harus lewat kota lain misal Purwokerto atau Temanggung atau Semarang.

========== Stop Dreaming Start Action =============

Di akhir tulisan saya sampaikan informasi bagi yang tertarik bisnis online dan ingin membangun negeri perlunya untuk mengakhiri mimpi dan diganti dengan aksi stop dreaming start action.

About me